Cari Artikel di blog Media Belajar Siswa

Loading
Untuk mencari artikel cukup ketikan kata kunci dan klik tombol CARI dengan mouse -Jangan tekan ENTER.

Zaman Fitnah

fitnah
Ini zaman adalah zaman akhir, kerusakan alam dan manusia nyata, kebenaran menjadi samar, fitnah dimana-mana.
Mencari pengaruh dengan banyak bergunjing-seakan bergunjing adalah hal yang benar- ini fitnah.
Berteori fasih tentang harga menghargai, menghormati, tidak membeda-bedakan orang, itu cuma teori, begitu tersudut dengan kesalahan nyata dimata, langsung menampakan ego pangkat, jabatan, status sosial - ini fitnah.
Bermanis-manis dimulut, seperti menaruh seonggok gula untuk memancing banyak semut, kemudian merasa bahagia, bangga dengan banyak semut yang datang, tetapi lupa terus menerus dengan hakikat diri.....ini pun fitnah.
Dan lebih lagi fitnah-fitnah yang lain...

Zaman ini memang zaman akhir sekaligus juga zaman fitnah.
Zaman ketika hati seorang dipenuhi dengan keimanan di pagi hari, kemudian kembali membuang keimanan itu disaat malam.
Zaman ketika malam harinya dipenuhi dengan munajat dan tangisan sementara paginya kembali mencampakkan iman.
Agama dan Tuhan kamu anggap cerita pengantar tidur, hanya digunakan untuk menina bobokan syaraf diotakmu....sebatas refreshing katanya.

Perilaku Jujur

perilaku jujur
Sekolah pada titik yang ideal adalah:
Tempat dimana siswa (anak-anak) menemukan kejujuran, kesederhanaan dan sikap egaliter.
Di sana anak-anak belajar tentang kejujuran, belajar tentang etika dan moral, belajar menjadi dirinya, belajar saling mengasihi, belajar saling membagi.
Di sana anak-anak memperoleh perlindungan dari penipuan, kebohongan, kedustaan, di sana mereka belajar tentang demokrasi, kejujuran, kebebasan berpendapat dan cinta.

Pokoknya sekolah adalah tempat memanusiakan manusia yang berkarakter mulia dan berbudipekerti.

Tetapi setengah fakta di lapangan menunjukan hal berbeda. Bukan tidak mungkin ini sebagai dampak dari sistem dan model pendidikan yang lebih bersifat kodian atau belum tuntas, artinya masih kurang memberi perhatian kepada pengembangan individualitas yang jujur dan kerja keras.

Berbagi Gembira

Berbagi gembira itu judulnya, bukan memakai kata kebersamaan yang sering terdengar. Sekali lagi bukan mengedepankan "kebersamaan" tapi yang lebih pas adalah "menumbuhkan jiwa sosial" ditengah banyak ketidaksamaan.

Tidak usah menggugat masalah sama atau tidak sama, karena sampai jelang kiamat pun perbedaan tetap.

Sehingga, dengan menumbuhkan jiwa-jiwa sosial maka akan bisa merasakan "keadilan", .............yang terakhir ini juga serba relatif.
Jadi......???
Ya...ga usah repot, gembira aja, dari yang kecil/sepele pun kita bisa gembira.............
(dibawah aneka gaya foto-foto guru)

Jika berkenan dengan artikel di Blog ini,Mohon dukungan dengan klik G+ di Aryadevi Sudut Kelas