Cari Artikel di blog Media Belajar Siswa

Loading
Untuk mencari artikel cukup ketikan kata kunci dan klik tombol CARI dengan mouse -Jangan tekan ENTER.

Hi hi hujan!

hujan lagi hujan
Hi hi hujan!..Kalau kamu melihat tanah longsor karena hujan. Secara kasat mata itu bencana bagi yang merasa bencana.

Proses alamiah (kebanyakan juga ulah manusia). Bukit yang hijau, dipaksakan gundul, diganti ditanami rumah-rumah, lokasi yang semestinya sebagai daerah resapan air tidak diindahkan.
Alhasil, alam hanya mengikuti tubuhnya dibedah (dadaldedel), jadilah banjir, longsor ..kemudian dikatakan manusia "bencana".

Hujan itu kebutuhan bumi yang bertanah, berbatu, berdaun, dan untuk manusia juga pada akhirnya.

Jadi nikmati saja hujan, walau tadi berdebum jatuh badan....ulah berjalan. Ber- ha ha hi hi..jingkrak kegirangan merasakan hujan, ...dan terplesetlah punggung berdebum menghantam lantai teras sebelah kanan si korden kuning.😝

Banyak tertawa mematikan hati

ngerasani orang-tertawa
Banyak tertawa mematikan hati; intinya, jangan berlebihan.
Apalagi tertawa, menertawai kelemahan fisik, pribadi, aib orang lain.
Bergunjing (sudah jelas ada larangan) kemudian terbahak sedemikian rupa menertawai kondisi yang digunjingkan.

Apalah arti kedewasaan, jika tidak mau belajar, orang yang dikatakan merasa benar sendiri itu adalah salah satunya jika berkata-berpikir “kita sudah dewasa, bisa mengatur sendiri, sudah tahu yang baik dan salah (dosa)....itu.

Padahal justru dibalik kedewasaan pada usia tersebut, ada banyak sekali ujian-tantangan dalam mengelola hawa nafsu.
Berbeda dengan seorang anak kecil (belum baligh), mereka masih dalam toleransi untuk menjalankan syariat agama, sehingga bisa dimaklumi.

Anak jangan dijadikan obyek

guru dan siswa
Anak (baca siswa) jangan djadikan obyek kreatifitas orang dewasa (baca orangtua dan guru). Orang dewasa hanya mempunyai fungsi pengarah, pembimbing bukan yang menentukan.
Jika memberikan tugas kepada anak dan mereka atau pihak lain berkeberatan maka bisa dipertanyakan kebijakan, wawasan atau pengetahuan dari orang dewasa tersebut (pengalaman menjadi salah satu nilai).

Apalagi dengan adanya kasus-kasus asusila, kekerasan, atau siswa dijadikan lahan duit- disuruh beli ini itu oleh gurunya untuk kepentingan pribadi, tentu ini menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan kepada anak.

Jangan merasa tugas yang dibebankan kepada anak adalah untuk menggali kreatifitas mereka, dari satu pihak.
Tentu lebih baik memberikan kebebasan mereka untuk memilih (jika menolak tugas dengan alasan yang logis) dan bisa diterima kemudian dicarikan tugas pengganti.

Paradigma pendidikan seutuhnya adalah membiarkan anak untuk mandiri sehingga pada akhirnya tidak memerlukan lagi seorang dewasa (orangtua atau guru) disisinya - mencari sendiri setelah dengan referensi, bimbingan yang ditawarkan, disajikan, diuraikan, dijelaskan oleh orang dewasa.

Jika berkenan dengan artikel di Blog ini,Mohon dukungan dengan klik G+ di Aryadevi Sudut Kelas