Cari Artikel di blog Media Belajar Siswa

Loading
Untuk mencari artikel cukup ketikan kata kunci dan klik tombol CARI dengan mouse -Jangan tekan ENTER.

Siswa dan Sejarah Lokal

siswa
Aceh Versus Portugis dan VOC, Maluku Angkat Senjata, Perlawanan Banten,
Perlawanan Goa, Rakyat Riau Angkat Senjata, Sultan Agung Versus J.P. Coen.

Itu semua merupakan perisiwa lokal yang tumbuh menjadi penulisan sejarah sebagai kesadaran hidup suatu bangsa dalam menghargai proses menuju kemerdekaan.
Dan bagian dari perspektif masyarakat untuk mengangkat dan menghargai peristiwa tersebut sebagai bagian dari perjuangan bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.

Sejarah lokal secara garis besar dapat didefinisikan sebagai kajian masa lalu dari suatu unit lokal yang berkembang sebagai sebuah komunitas masyarakat yang merupakan suatu unit tersendiri yang dapat diperbandingkan dengan unit-unit lainnya.

Pentingnya pemahaman yang baik terhadap sejarah lokal diperlukan untuk para siswa ditingkat sekolah.
Pengajaran sejarah lokal ditingkat sekolah menjadi bagian penting dari kurikulum sejarah di berbagai Negara dunia.

Ditingkat sekolah, sejarah lokal dapat dimaknai sebagai pengkajian sejarah dalam lingkup lokal tertentu yang sumber-sumbernya dapat diakses oleh siswa .

Dalam memahami sejarah Indonesia, siswa tidak cukup hanya memahaminya dalam kerangka sejarah nasional.
Lebih jauh lagi para siswa akan dapat lebih baik memahami sejarah Indonesia jika mereka dapat mempelajari sejarah dari masyarakat yang ada disekitarnya.


-Siswa dan sejarah lokal bagian dari pendidikan, pengembangan dan wawasan.

Corak kehidupan masyarakat pra aksara

RockArt-gambar cadas
gambar cadas kreasi masyarakat praaksara. diambil dari Gua TEWET
Corak kehidupan masyarakat pra aksara (Materi pertemuan ke 8-SNI kelas X)
Coba kalian pahami, mengapa dalam penemuan-penemuan arkeologi, kerap ditemukan bukti-bukti kehidupan masyarakat purba berada dekat bantaran sungai, gua-gua dekat sungai/laut ?

Dan dari bukti temuan serta hasil penelitian bisa dikatakan bahwa pola hunian manusia purba memperlihatkan dua karakter khas hunian purba yaitu:
(1) kedekatan dengan sumber air dan
(2) kehidupan di alam terbuka.

Pola hunian itu dapat dilihat dari letak geografis situs-situs serta kondisi lingkungannya.
Beberapa contoh yang menunjukkan pola hunian seperti itu adalah situs-situs purba di sepanjang aliran Bengawan Solo (Sangiran, Sambungmacan, Trinil, Ngawi, dan Ngandong) dan situs purba di KAWASAN KARST SANGKULIRANG MANGKALIHAT- KALIMANTAN TIMUR
merupakan contoh-contoh dari adanya kecenderungan manusia purba menghuni lingkungan dipinggir/dekat sumber air, sungai, danau, alam atau kawasan terbuka.

Kawasan Karst-Sangkulirang

kawasan karst
Kawasan Karst-Sangkulirang Mangkalihat, Karst Sangkulirang Mangkalihat merupakan kawasan karst seluas 1,8 juta hektar yang terletak di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.
Kawasan tersebut terdiri dari 9 gunung karst raksasa yang menjulang tinggi, namun yang spesifik dilindungi seluas 430.264,72 hektar.
Terdiri dari 5 gunung karst, yang terletak di Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Sangkulirang (Kabupaten Kutai Timur), serta Kecamatan Kelay, Kecamatan Sambaliung dan Kecamatan Tabalar (Kabupaten Berau).

Kawasan karst tersebut merupakan relung ekologis yang tangguh bagi Bio-diversity. Terdapat gua-gua pemukiman praaksara, yang berdasarkan temuan ekofak dan artefaknya merupakan bukti populasi masa lalu sekitar 4.000 tahun yang lalu berciri fisik Mongoloid, penutur bahasa Austronesia.

Jika berkenan dengan artikel di Blog ini,Mohon dukungan dengan klik G+ di Aryadevi Sudut Kelas