Cari Artikel di blog Media Belajar Siswa

Loading
Untuk mencari artikel cukup ketikan kata kunci dan klik tombol CARI dengan mouse -Jangan tekan ENTER.

Pernikahan bukan Gaya

Pernikahan bukan Gaya
Pernikahan bukan Gaya, dengan maksud adalah dasar prinsip dalam hidup.
     Membaca tulisan dari blog djanganpakies mengenai "Suit Sepentin Giveaway", menitikan sedikit pandangannya tentang perjalanan rumah tangga (pernikahan) beliau dan bagaimana mengatur aktifitas dalam blogging.
     Cukup berkesan, terutama pada bagian pernyataan habib," Kami sangat tidak setuju ketika ada pasangan berpisah dengan alasan tidak ada kecocokan. Jangankan dua individu suami istri, sodara kembar identik secara genotip, belum tentu memiliki kesamaan dalam tingkah laku apalagi persepsi dan pemikiran".
Manusia dalam melakukan pernikahan sekarang, lebih banyak terpengaruh pada kultur sosial saja dimana status, materi, dan juga "rasa cinta" jadi tolok ukur (bahkan berlaku karena membabi butanya "nafsu"). Menganggap pernikahan bagian dari gaya hidup ( trend, kalau tidak mengikuti "gaya" dianggap "bodoh").
***
     Diawali dari kelirunya meletakan niat dalam memasuki pernikahan, menjadi salah satu penyebab "habis manis sepah dibuang" nya sebuah pernikahan.
Bukan menafikan masalah "kultur" yang banyak menyeleweng dari kaidah prinsip dasar para pendahulu, karena memang benar adanya kalau memang generasi penerusnya memahami dan menjalankan dengan baik.
Fakta mengatakan, dengan banyak kasus kawin cerai hanya bermula pada masalah ringan.
Kalau mau kilas balik ," bagaimana dengan rasa cinta yang kemarin begitu mendayu..haru biru ?" ^_^
"Berjanji setia, berkorban harga diri, dan yang ekstrim, mungkin aqidah bisa dikorbankan, hubungan anak dan orangtua bisa diputuskan ".
(melihat dari berbagai pengalaman hidup)
     Benar adanya, pada Tausiyah Tuan Guru Zaini, bahwa "Ilmu sudah diangkat pada banyak rumah tangga, orang tua sudah tidak paham lagi dalam mendidik anak, mengawali dari niat pernikahan yang keliru, "nafsu" diselubungi dengan keindahan, yang dangkal,kosong pada akhirnya".

Sumber: Tausiyah Tuan Guru Zaini Abdul Ghani (Martapura)
dan Blog = http://www.djanganpakies.com/

12 komentar:

  1. Selamat pagi kawan
    postingan yang bagus kawan
    sukses selalu ya

    BalasHapus
  2. > Alhamdulillah, sangat menarik Kang
    >telah saya catat dan artikel ini saya copas dan saya jadikan satu pada satu blog tersendiri
    >sekaligus URL blog ini telah saya pasang blog roll semoga menjadi silaturrahim yang bermanfaat

    BalasHapus
  3. maaf baru bisa mampirseperti biasa weekend males buka laptop :)

    BalasHapus
  4. @Lidya: terimakasih mba, begitu santun...sampai minta maaf....sangat menghargai mba ^_^, walau dalam blogging tidak ada "kewajiban" untuk meminta maaf karena tidak blogwalking....
    (saya juga minta maaf, jika dalam blogwalk ada komentar yg salah)

    salam manis dari kopi panas yang segar dari Balikpapan

    BalasHapus
  5. @Djangan Pakies: terimakasih habib, berharap sama untuk mendayung perahu idealism....bukan bermuluk-muluk cuma ingin hidup punya nilai....

    salam damai dari Balikpapan

    BalasHapus
  6. @Imtikhan: selamat pagi kawan ^_^ sama sukses juga untuk anda..........

    BalasHapus
  7. mungkin terlalu diobral rasa cinta saat pra nikah mbak, jadi setelah nikah rasanya sudah hambar

    BalasHapus
  8. bali maning,
    maaf jangan panggil saya Habib, itu gara-gara Kang Adit Belantara Indonesia yang suka guyon.
    biar enak panggil secara umum aja. Panggil nak juga ndak apa hhhh asal jangan yang itu, Ndak Kuat hhhh

    BalasHapus
  9. pernikahan sekarang memang seolah menjadi gaya hidup, maksudnya hanya untuk "show" atau pameran saja, biar diliput media , ditunjukkan berapa besar dana yang dikeluarkan untuk pestanya, ehh kagak tahunya tiga bulan kemudian cerai

    BalasHapus
  10. Pernikahan yg harusnya menjadi sesuatu yg sakral, suci, dan indah. Sekarang mulai kehilangan maknanya.
    Sangat mudah minta cerai hanya karena hal yg sangat tidak layak untuk dipermasalahkan...
    Kawin-cerai, MBA, selingkuh.. membuat saya kesal mendengar berita tentang itu semua.

    BalasHapus
  11. Sering kita mendengar bahkan mengakui kebenarannya bahwa sesuatu tergantung niatnya. Maka jangan terlalu muluk berharap pernikahan akan bertemu kebahagiaan bila niatnya hanya untuk sekedar gaya-gayaan. Menikah termasuk ibadah, dan ibadah akan menjadi sah bila disertai dengan niat ( yang baik dan benar )

    BalasHapus

(Terima kasih sudah mau berkunjung ke Blog Arya-Devi sudut kelas media belajar siswa)
Komentar Anda sebagai masukan berharga dan juga sebagai jalinan interaksi antar pengguna internet yang sehat. Dan jika berkenan mohon dukungannya dengan meng-klik tombol G+.

Jika berkenan dengan artikel di Blog ini,Mohon dukungan dengan klik G+ di Aryadevi Sudut Kelas