Cari Artikel di blog Media Belajar Siswa

Loading
Untuk mencari artikel cukup ketikan kata kunci dan klik tombol CARI dengan mouse -Jangan tekan ENTER.

Yang memulai Bid'ah hasanah

Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul shallallahu 'alaihi wasallam?

“Bahwa Sungguh Zeyd bin Tsabit ra berkata : Abubakar rhadiyallahu anhu mengutusku ketika terjadi pembunuhan besar - besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah), dan bersamanya Umar bin Khattab rhadiyallahu anhu, berkata Abubakar :
“Sungguh Umar (rhadiyallahu anhu) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq Rhadiyallahu anhu) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata :
“Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa
“Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd :
“Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung - gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam??”, maka Abubakar rhadiyallahu anhu mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”.
(Shahih Bukhari hadits No.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar Asshiddiq rhadiyallahu anhu mengakui dengan ucapannya :
 “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya Alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah - pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll. Ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.

Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah Hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan.
Diriwayatkan bahwa Rasul shallallahu 'alaihi wasallam selepas melakukan shalat subuh beliau shallallahu 'alaihi wasallam menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan.., maka beri wasiatlah kami..” maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak Afrika,
sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf (perbedaan pendapat), maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat – kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk
kesungguhan), dan hati - hatilah dengan hal - hal yang baru, sungguh semua yang Bid’ah itu adalah kesesatan”.
(Mustadrak Alasshahihain hadits No.329).

Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar Asshiddiq rhadiyallahu anhu dan Umar bin Khattab rhadiyallahu anhu menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan rhadiyallahu anhu, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kharamallahu wajhah dan seluruh sahabat Radhiyallahu’anhum.

Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar Asshiddiq rhadiyallahu anhu di masa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab rhadiyallahu anhu pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata :
“Inilah sebaik - baik Bid’ah!”
(Shahih Bukhari hadits No.1906)
lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan rhadiyallahu anhu hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama “Mushaf Utsmaniy”, dan Ali bin Abi Thalib kharamallahu wajhah menghadiri dan menyetujui hal itu dan seluruh sahabat Radhiyallahu’anhum.

Demikian pula hal yang dibuat - buat tanpa perintah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam adalah 2X adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan di masa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar Asshiddiq rhadiyallahu anhu, tidak pula di masa Umar bin khattab rhadiyallahu anhu dan baru dilakukan di masa Utsman bn Affan rhadiyallahu anhu, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bukhari hadits No.873).
Seluruh madzhab mengikutinya.
Lalu siapakah yang salah dan tertuduh? Siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?
Adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

Sumber:Kenalilah Aqidahmu; Habib Munzir Almusawa

11 komentar:

  1. Orang-orang wahabi apakah membaca hadist sepeti itu ya ?? apakah menutup mata.sunggu tidak sedikit hadist yang menjelaskan ttg bid'ah hasanah,sudah jelas Alquran zaman dulu cuma ada dipelapah kurma,tembikar batu putih,semua inisiatip atau bidah para sahabat.susah bicara sama orang awam,bisanya cuma kullu bid'atibn dholalah,diambil buntutnya saja.Wakullum muhdastaani bid'atun.cuma itu,bacalah yang lengkap,tentu kata " setelah sunnahku kata Nabi ikutilah sunnah para sahabat.maklumlah.....???????

    BalasHapus
  2. thekku kunjungono sik dikyo ????? blogthohiranam.blogspot.com ttg bidah hasaha dan bid'ah para sahabat mumpung belum kemasukan wahabi,bacalah artikel ttg wahabi.

    BalasHapus
  3. Adik-adik ini sma mana ya ????

    BalasHapus
  4. Ketika perang yamaamah banyak para huffadz yang mrninggal dunia,pada saat itu Sayyidina Umar mendesak kepada Abu Bakar agar secepatnya mengumpulkan Alqur'an,dalam 1mushhaf,apa jawaban Sayyidina Abu Bakar ra." KAIFA NAF'ALU SYAIAN LAM YAF'ALHU ROSULULLOH SAW." ? QOOLA UMAR, HAADIHII WALLOHU KHOIRUN " Artinya setelah di desak oleh Sayyidina Umar, Abu Bakar menjawab " Bagaimana engkau akan membuat sesuatu pekerjaan yang tidak di buat Rosuulullooh,? Umar menjawab," Demi Allooh pekerjaan ini baik ! ternyata Abu menganggap perbuatan mengumpulkan Alqur'an adalah " Bid'ah " cuma bid'ah yang baik,( Bid'ah hasanah ) Setelah itu Abu Bakar menunjuk Zaid bin Stabit sebagai penulis.Klau kita memahami hadist ini siapa yang tidak berbuat : Bid'ah " ? termasuk sholat taroweh satu bulan suntuh,yang tidak pernah dikerjakan Rosululloh ? ( Imam Bukhori Fathul, Bari jus 10 hal 385-390.)

    BalasHapus
  5. Sesuai apa yang disabdakan Rosuululloh saw. " Iqtaduu billadzdzaini mimbakdii Abii Bakrin wa'Umar ( Rowaahutturmuudi shoheh Turmuudi jus 13 hal 129 ) ikutilah 2 orang sesudah aku wafat, yaitu Abu Bakar dan Umar, masihkah anda mengatakan tukang bidah kepada Abu Bakar dan umar,? kalau tidak mau menentang Rulullooh saw.

    BalasHapus
  6. Sebetulnya memahami bid'ah tidak usah susah susah tidak usah di plintir-plintir. Bid'ah cuma pekerjaan yang tidak dicontohkan pada zaman Rosul," Apakah suatu pekerjaan yang tidak dicontohkan pada zaman Rosul sesat ! atau dilarang ! nyatanya tidak,terbukti Sabda Rosul ikutilah sesudahku Abu Bakar,Umar ustman Ali kw.banyak hadist-hadis seperti itu lihatlah di blog kami ttg baidah para sahabat,dan bid'ah hasanah.Karene setiap hadist " KULLU BID'ATIN DHOLAALAH ATAU WAKULLU MUHDASTATUN BID'AH " Pasti didahului bidah para sahabat,kalau kita tidak mengikuti para sahabat pasti menentang Nabi,jadi zaman sahabatpun sudah banyak ttg bid'ah hasanah kita disuruh mengikutinya,bukan menentang Sayyidina umar Sayyidina Abu Bkar dan mlintir-mlintir Imam Syafi'i. Kalau membuad dalil hanya diambil buntutnya saja semua sahabat sesat termasuk kita semua.Wallohu Aklam.

    BalasHapus
  7. Sesuatu yang tidak ada pada zaman Rosul saw.bukan menjadi tolak ukur, yang menjadi tolak ukur adalah syari'at aturan yang ditetapkan oleh Rosul,jadi tidak mudah membaca tahlil bid'ah yasinan,membaca dibak peringatan Maulid Nabi,Isrokj mi'roj lomba baca qur'an semuanya itu sumbernya Alqur'an Hdits.Gara-gara tidak memahami ttg bid'ah ahirnya kita banyak menjadi korban,semoga kedepan tambah lebih faham lagi.

    BalasHapus
  8. Coba kita telaah kembali hadist Musim yang cukup lugu " MAN SANNA SUNNATAN HASANATAN FA'UMILA BIHAA BAKDAHUU KUTIBA LAHUU MISTLU AJRIN,WAMAN SANNA SUNNATAN FILISLAAMI SUNNATAN SAYYIATAN FA'UMILA BIHAA BAKDAHUU KUTIBA ALAIHI MISTLUNAJRIN " Rngkas kata barangsiapa membuat amalan sunnah yang bagus dan diamalkan, akan mendapat pahala,dan barangsiapa mengadakan didalam islam sunnah yang jelek dan diamalkan akan mendapatkan siksa.sudah jelas tidak ada kalimat " manibtada'a " atau memulai mau diplintir apa lagi ? shoheh Muslim 14 hal 226 "

    BalasHapus
  9. Perhatikan hadist dibawah ini,ANNAHUU MAN AHYAY SUNNATAN MINSUNNATII QODUMITAD BAKDII FALAHUU MINAL AJRI MISTLU MANAMILA BIHAA MINGHOIRI ANYANGKUSHU MINUJUURIHIMSYAIAN baru ada kalimat WAMANIBTADA'A BID'ATAN DHOLAALATAN LAATURDHILLAAHA WAROSUULAHU KAANA ALAIHI MISTLU ASTAAMI MAN AMILA BUHAA LAAYANGKUSHU DZAALIKA MINAUZAARINNAASI SYAIAN, ( TIRMIDZI JUS 10 HAL 147 ) jadi menurut hadist ini " Barangsiapa memulai bidah yang sesat yang tidak diridhoi Alloh dan Rosulnya akan mendapat siksa,jadi tidak sama kalimatnya dengan hadist Muslim diatas,jadi tidak benar kalau hadist diatas diklaim sebagai hadist memulai syariat yang ditetapkan,makanya kalau menyampaikan dalil yang utuh agar tidak mengelabui kita semua.

    BalasHapus
  10. pencinta ukhuwah islam3 November 2013 23.46

    pengkultusan bid'ah terhadap perbuatan baik yg dilakukankan kaum muslimin oleh kaum wahabi dengan dalih "itu takada dimasa rasulullah saw"hanya merupakan proses pendangkalan,penyempitan terhadap pemhaman dan kearifan islam.

    BalasHapus

(Terima kasih sudah mau berkunjung ke Blog Arya-Devi sudut kelas media belajar siswa)
Komentar Anda sebagai masukan berharga dan juga sebagai jalinan interaksi antar pengguna internet yang sehat. Dan jika berkenan mohon dukungannya dengan meng-klik tombol G+.

Jika berkenan dengan artikel di Blog ini,Mohon dukungan dengan klik G+ di Aryadevi Sudut Kelas