Cari Artikel di blog Media Belajar Siswa

Loading
Untuk mencari artikel cukup ketikan kata kunci dan klik tombol CARI dengan mouse -Jangan tekan ENTER.

Matang dalam beragama

mulutmu apimu.
Matang dalam beragama, manusia mengalami dua macam perkembangan, yaitu perkembangan jasmani dan perkembangan rohani, perkembangan jasmani diukur berdasarkan umur kronologis dan puncaknya perkembangan jasmani yang dicapai manusia disebut kedewasaan.

Sedangkan perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (abilitas), dan pencapaian abilitas rohani dalam perkembangannya akan menuju pada kematangan (maturity).

Pada temuan psikologi terhadap orang-orang yang beragama, faktor internal dan lingkungan dapat memberi ciri pada pola tingkah laku seseorang dalam bertindak. Pola seperti ini akan memberikan bekas pada sikap seseorang dalam beragama.
Dan jelas ada hubungan, antara tingkah laku keagamaan seseorang dengan pengalaman agama yang dimilikinya.
***
Anda yang sering berkunjung kesitus Youtube dengan pencarian kata kunci yang berkaitan dengan "agama" tentu melihat lebih banyak isi komentar yang mencaci maki, menghujat, dan cenderung tidak ada hubungan dengan isi video atau pada forum-forum diskusi "agama", banyak isi komentar yang penuh emosi, juga pada situs-situs berita lainnya, selalu ada saja komentar-komentar yang tidak tepat dengan substansi masalah.
Dan ini disadari atau tidak disadari malah menunjukan "isi" dari yang berkomentar.

Perlu dicurigai jika berhadapan dengan orang-orang yang sering menghujat, caci-maki: agama, keyakinan dan kepercayan orang lain, bisa dikatakan orang itu tengah sakit jiwa.

Sakit jiwa? ^__^

Maksudnya orang tersebut dalam melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang seimbang secara bertahap dan berproses dalam perjalanan hidup.
Pemahaman, menjadi cerdas dan menguasai sesuatu ilmu memerlukan proses, ada tahapan (dan semua itu karunia Allah). Tidak bisa instan, sehingga saat menemui kegagalan dalam belajar, kecewa dan frustrasi.
***
Andai anda (yang sudah beragama) masuk ketengah orang yang beraliran sesat sekalipun, tidak dibenarkan untuk berkata kasar menghujat.
Dalam tata cara penyampaian (dakwah) semanisnya untuk mengajak manusia dengan cara yang bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah, untuk kemashlahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan juga di akhirat-terlepas mereka mau ikut atau tidak (sekali lagi ini adalah urusan Allah-karunia dan hidayah Allah).

Dengan disertai cara dan tuntunan, bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia supaya menganut, menyetujui, dan melaksanakan sesuatu ideologi, pendapat-pendapat, pekerjaan-pekerjaan tertentu dan lain-lain dengan tutur kata yang arif.

Gambar:http://ivadygabor.blog.hu/

12 komentar:

  1. sekarang mending beragama sesuai dengan kepercayaan kita aja jangan dibangga-banggakan palagi jadi fanatisme

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip pak..terimakasih untuk kunjungannya...

      Hapus
  2. Kalau buat Muslim beragama lah seperti Rasulullah karena dia teladan yang baik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya..sambil terus berjihad (belajar terus)

      Hapus
  3. banyak orang komentar di entri agama tapi komentarnya ga seperti orang beragama

    BalasHapus
    Balasan
    1. dunia memang tempatnya nafsu.....maka banyak yg bernafsu....tidak perlu pikir panjang, tidak perlu pakai ilmu yang sudah pernah dipelajari.....langsung saja gunakan nafsu...menghina, intimidasi, menghujat desebegenya..

      Hapus
  4. Ngaku beragama tapi ngomongnya kayak setan... gak jelas memang... kurangnya kontrol diri, dan belum dibukakan pemahaman bahwa penghuni surga itu bahasanya santun #kayak pernah ke sana aja ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe..iya bu rupanya pernah ke surga?....
      mesti ada pengelolaan hawa nafsu.....

      Hapus
  5. yang waras ngalah ya pak dibanding harus menghujat dan mencaci maki

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudut kelas media belajar siswa1 Juni 2013 13.58

      bisa begitu bu..iya...yang waras ngalah saja dari pada jadi debat kusir

      Hapus
  6. saking dangkalnya pemahaman kita tentang beragama, sehingga kadang kita mengagungkan agama kita, Seharusnya hanya Allah yang menciptakan dan memberi kehidupan kepada kita yang patut untuk kita agungkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudut kelas media belajar siswa1 Juni 2013 14.00

      tidak ada keseimbangan antara syariat dan hakikat. Mesti jalan keduanya, jika sudah lazim maka akan menjadi tenang dihati dan menenangkan sekitar.

      Hapus

(Terima kasih sudah mau berkunjung ke Blog Arya-Devi sudut kelas media belajar siswa)
Komentar Anda sebagai masukan berharga dan juga sebagai jalinan interaksi antar pengguna internet yang sehat. Dan jika berkenan mohon dukungannya dengan meng-klik tombol G+.

Jika berkenan dengan artikel di Blog ini,Mohon dukungan dengan klik G+ di Aryadevi Sudut Kelas