Cari Artikel di blog Media Belajar Siswa

Loading
Untuk mencari artikel cukup ketikan kata kunci dan klik tombol CARI dengan mouse -Jangan tekan ENTER.

al-Mu’min dan al-Wakiil

Melanjutkan untuk pembahasan Asmaul Husna (Nama-nama yang baik) berikutnya adalah al-Mu’min dan al-Wakiil:
  • Al-Mu'min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan(Yang Maha Terpercaya).

Adalah dari Allah-lah datangnya keselamatan dan keamanan, karena Dia memiliki media-media untuk mendapatkan keselamatan dan keamanan dan sekaligus untuk menolak bahaya. Karena keselamatan dan keamanan hanya didapati dengan adanya rasa takut.

Pada dasarnya manusia merasa lemah, yaitu takut terkena penyakit, kelaparan dan kehausan.
Dan ketakutan manusia yang terbesar yaitu takut tidak akan ada yang melindunginya dari suatu keburukan, karena tidak mempercayai atau tidak beriman kepada Allah atau tidak mempercayakan segala sesuatunya kepada Allah semata.
Sesungguhnya takut dan aman itu datangnya dari Allah, karena Allah menciptakan sebab-sebab rasa takut, maka wajarlah apabila manusia berlindung dan memohon pertolongan-Nya.

Iman kepada Allah yaitu iman kepada Dzat-Nya dan iman kepada ke-Esaan-Nya, iman kepada wujud Allah Subhanahu wata'ala dan iman kepada sifat-sifat ketuhanan-Nya yang paling sempurna.

Allah Mahabersih dan Mahasuci, Dzat-Nya tidak menyerupai dzat-dzat makhluknya, dimana manusia mempunyai jenis dan macam sementara Allah tidak seperti itu.
Iman kepada ke-Esaan Allah yaitu mengetahui bahwa Allah itu sendiri dalam pemilikan dan pengaturan-Nya, Maha Esa Dzat-Nya, Maha Esa sifat-sifat-Nya, Maha Esa perbuatan-perbuatan-Nya, Maha Esa Firman-Nya dan Dia-lah yang Maha Tinggi.

QS. Surat Al-Hasyr ayat 23:
Surat Al-Hasyr ayat 23.
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.
(QS 59: 23)
Kata amuna ya'manu amanatan berarti jujur atau dapat dipercaya. Kata amina berarti aman, tenteram dan kata amana bihi berarti mempercayai. Kata al iman berarti percaya dan al mukmin berarti yang mempercayai. Kata Al Mukmin dalam Al Qur'an pada umumnya merujuk kepada makna tersebut yakni orang yang beriman (mempercayai). Akan tetapi ada satu kata Al Mukmin yang dapat dijadikan sandaran sebagai nama Allah, yakni kata Al Mukmin yang berada di dalam Al Hasyr 59: 23 yang dikutip di atas. Sehingga Al Mukmin dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari Al Asmaul-Husna.

Al Mukmin sebagai nama Allah oleh Departemen Agama Republik Indonesia dimaknai sebagai Yang mengaruniakan keamanan. Makna ini pula yang diadopsi oleh Quraish Shihab dalam menterjemahkan Al Mukmin sebagai nama Allah yakni Pemberi rasa aman. Namun demikian ada juga yang menterjemahkannya sebagai Yang membenarkan keimanan hamba-Nya.
Kalau kita ambil makna yang pertama, maka makna ini sesuai dengan firman Allah yang akan memberikan keamanan dan petunjuk kepada orang-orang beriman yang tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan syirik (QS Al-An'aam, 6: 82). Sedang disamping keamanan Allah juga memberikan rasa aman kepada hamba-Nya dari ketakutan (QS. Quraisy, 106: 4).
Allah yang menurunkan hidayah kepada hamba-Nya yang apabila diikuti, maka dia akan bebas dari ketakutan dan kesedihan (QS. Al-Baqarah, 2: 38). Dia, Allah juga yang menurunkan malaikat yang membisikkan rasa aman dari takut dan sedih kepada hamba-Nya yang beriman dan beristiqamah (QS.Fushshilat, 41: 30).

Al Ghazali memberikan makna mukmin sebagai tempat kembalinya rasa aman dan keamanan. Secara fitri manusia itu sangat lemah, selalu teracam oleh rasa lapar, haus, lelah, letih, kantuk, sakit, dan mati. Selalu merasa terancam oleh rasa takut karena pencurian, perampokan, penyiksaasn, peperangan, dan pembunuhan.
Hanya Allah Subhanahu wata'ala sajalah yang dapat memberikan rasa aman dan keamanan kepada manusia. Itulah makna Al Mukmin. Seberapa luas jangkauanan rasa aman dan seberapa kuat keamanan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata'ala kepada manusia, tidak ada seorang menusiapun yang dapat membayangkannya. Sebagai gambaran Rasulullah pernah memberitakan bahwa Allah mengirimkan 3000 malaikat untuk membantu para mujahid yang terjun ke medan perang Badar (QS. Al-Imran, 3: 124).

Begitu pula Allah memberitakan bahwa bukan kamu yang membunuh tetapi Allah yang membunuh, bukan kamu yang melempar panah tetapi Allah yang melemparnya (QS. Al-Anfaal, 8: 17). Pemberian rasa aman dan keamanan oleh Allah kepada hamba-Nya adalah bagian dari pertolongan Allah yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang beriman yang menolong agama Allah (QS.Muhammad, 47: 7).

Orang-orang beriman wajib meneladani sifat Allah Al Mukmin dengan memberikan rasa aman dan mengupayakan keamanan di lingkungannya masing-masing. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Al Muslimu man salimal-muslimuuna min lisanhi wa yadihi." (Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lain selamat dari lidahnya dan tangannya). Dia akan senantiasa menjaga lidahnya agar tidak melukai hati orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dia tidak akan merendahkan martabat, menghinakan dan mengejek orang lain. Dia akan menjauhi ghibah, namimah, dan fitnah. Sebaliknya dia akan memanfaatakan kepandaiaanya berbicara untuk berdakwah, mengajak orang lain kembali ke jalan Allah. Tutur kata yang terucap adalah tutur kata yang menyejukkan hati. Nasehat dan saran yang keluar dari mulutnya akan mendatangkan keselamatan.

Begitu pula dengan perbuatannya, senantiasa terjaga tidak pernah merugikan orang lain dengan sengaja. Bahkan dia tidak pernah kikir dengan tenaga, pikiran, dan hartanya di jalan Allah. Dia senantiasa siap membantua orang lain dengan diri dan hartanya. Dia selalu berusaha mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Karakter seperti inilah yang dimiliki orang-orang Anshar, yang mengutamakan orang-orang Muhajirin daripada diri mereka sendiri, yang digambarkan Allah swt dalam surat Al Hasyr 59: 9.

Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra dikatakan bahwa seseorang itu tidak beriman apabila tetangganya tidak aman dari keburukan-keburukannya. Orang yang meneladani sifat Allah Al Mukmin akan selalu berusaha untuk mengendalikan dirinya agar mengganggu tetangga.
Bahkan dia akan suka berbagi rejeki dengan tetangganya. Suka memberikan hadiah meskipun hanya berupa makanan. Dia tidak akan membiarkan tetangganya kelaparan ketika dia sendiri mampu mengenyangkan perut keluarganya. Bahkan dia akan mengikuti sunnah

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam memberikan rasa aman kepada saudaranya dengan menolong saudaranya yang dzalim dan didzalimi. Dalam arti mencegah saudaranya berbuat dzalim dan membela sudaranya yang didzalimi dalam menegakkan kebenaran. Semoga Allah swt memilih kita menjadi hamba-Nya yang pandai menebarkan rasa aman dan keamanan bagi sekalian makhluk-Nya. Amin, ya rabbal'alamin

  • Al-Wakiil Artinya Yang Maha Memelihara
Lafal Al Wakil mempunyai arti bahwa Allah, adalah Dzat yang mengurus segala urusan hamba-Nya dan memudahkan segala yang dibutuhkan oleh mereka. Allah adalah Dzat yang segala perkara diwakilkan kepada-Nya.
Dan wakil itu terbagi atas:

-Yang memenuhi apa yang diwakilkan kepadanya dengan sempurna, tanpa pamrih;
-Yang memenuhi tetapi tidak semua. Wakil yang mutlak ialah yang diwakilkan segala urusan kepadanya, dan dia cocok untuk melaksana kan dan menyempurnakannya-wakil seperti itu tidak lain hanyalah Allah Subhanahu Wata'ala.

Dari keterangan ini, dapatlah dipahami bahwa bagian hamba dari ism ini adalah: kepada-Nyalah ia harus menyerahkan segala urusannya, sebab Dialah sebaik-baik yang diserahi urusan.

Kalimat Wakiil diambil daripada huruf waw, kaf dan lam (wakala) yang makna asalnya mewakilkan atau mempercayakan orang lain bagi sesuatu urusan atau pekerjaan yang sepatutnya dilakukan sendiri. Contoh; menghantarkan wakil untuk meresmikan sesuatu acara atau karena yang seharusnya hadir tidak dapat hadir. Daripada wakala itulah timbul al-Wakil sebagai nama Allah yang bermaksud Allah bersedia menerima kepercayaan yang diberikan kepadaNya.

Ada perbedaan antara wakalah kepada Allah dengan wakalah kepada manusia. Jika kita berwakil kepada orang lain orang itu mesti lakukan 100% seperti yang kita harapkan. Jika tidak mungkin kita bisa membuangnya atau karena dia melakukan tidak sama seperti yang kita kehendaki. Kita bisa juga berkata "next time no more".
Lain jika kita berwakilkan Allah. Allah tak mesti melakukan 100% seperti apa yang kita kehendaki. Ini karena Allah lebih mengetahui daripada kita. Seorang hamba yang menjadikan Allah sebagai wakil juga tak boleh berserah tanpa usaha kepada Allah. Hamba tersebut harus ikut berusaha. Oleh itu bila bertawakkal kepada Allah seorang hamba tidak boleh merasa kecewa jika tak dapat apa yang dikehendaki.

Allah Yang Maha Memelihara sama seperti dalam pembahasan nama Allah al-Hafiz. Allah memelihara hamba-hambaNya dengan sunnatullah dan inayatullah. Kita disuruh berikhtiar bertepatan dengan sunnatullah, tetapi kita harus ingat bahawa berlaku atau tidak berlaku seperti apa yang kita hajati bergantung kepada masyi'ah Allah. Menurut sunnatullah bila seseorang itu kelaparan bisa mati tetapi Allah boleh batalkan; itulah inayatullah. Hamba juga tidak boleh memaksa Allah bila bertawakkal. Kita berusaha tetapi yang hak memberi itu ialah Allah.

Orang yang berusaha dan bertawakkal tidak akan mempersoalkan Allah. Jika tidak dia akan stress berkepanjangan. Sepatutnya dia memahami bahwa Allah Maha Bijaksana.

Ibnu 'Abbas Rhadiyallahu anhu, ada meriwayatkan sebuah hadis; "Siapa saja berkeinginan untuk menjadi manusia yang paling kuat maka bertawakkallah kepada Allah".

Orang yang bertawakkal kepada Allah akan senantiasa tenang menerima apa saja yang Allah putuskan kepadanya. Walaupun Allah memberikan lain daripada apa yang dia minta, dia yakin Allah tak akan memberikan sesuatu yang tak baik kepadanya.

Telah menjadi tabi'at manusia bahawa apabila diberi ujian sama ada nikmat atau musibah; manusia akan berkata Allah memuliakannya bila mendapat nikmat dan Allah menghinanya bila diberikan musibah.

Allah berfirman:
Al Fajr ayat 15
(Dalam pada itu manusia tidak menghiraukan balasan akhirat), oleh yang demikian, maka kebanyakan manusia apabila diuji oleh Tuhannya dengan dimuliakan dan dimewahkan hidupnya, (ia tidak mau bersyukur tetapi terus bersikap takabur) serta berkata dengan sombongnya: "Tuhanku telah memuliakan diriku!" (al-Fajr [89] : 15)


Al Fajr ayat 16
Dan sebaliknya apabila ia diuji oleh Tuhannya, dengan disempitkan rezekinya, (ia tidak bersabar bahkan ia resah gelisah) serta mengeluh dengan katanya: "Tuhanku telah menghinakan aku!" (al-Fajr [89] : 16)

Pemikiran seperti ayat 16 diatas adalah salah dan merupakan dosa besar karena berfikir bahwa ridha atau kemurkaan Allah adalah berdasarkan pemberian Allah.

Mudah-mudahan dengan ini kita semua (saya dan siswa) dapat memahami manfaat dari perilaku keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakal dan perilaku adil. Allahuma amiin.

Materi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

3 komentar:

  1. makasih atas infonya sangat menarik dan artikelnya juga berkualitas
    http://goo.gl/BIF6if

    BalasHapus
  2. Informasinya sangat bagus dan bermanfaat.
    http://goo.gl/bTFgPZ
    http://goo.gl/vcktpt

    BalasHapus

(Terima kasih sudah mau berkunjung ke Blog Arya-Devi sudut kelas media belajar siswa)
Komentar Anda sebagai masukan berharga dan juga sebagai jalinan interaksi antar pengguna internet yang sehat. Dan jika berkenan mohon dukungannya dengan meng-klik tombol G+.

Jika berkenan dengan artikel di Blog ini,Mohon dukungan dengan klik G+ di Aryadevi Sudut Kelas